Sabtu, 05 September 2009

RADIT

Sepi sekali di kala itu, murid-murid sementara kehilangan kewajibannya ke sekolah. Tiga minggu tepatnya murid-murid tak duduk di singgasananya. Hari-hari pun dimulai, meski panas tak membuat Papang kehilangan semangatnya. Di saat semua orang menghabiskan waktunya di rumah karena terik matahari yang begitu menyengat. Papang bersama dua sahabat karibnya pergi menonton di ruang gelap. Dimas dan radit, begitu mereka dipanggil. Hampir 2 tahun mereka bertiga menghabiskan hari-harinya di ruang yang sama. Radit yang tertua diantara mereka. Oleh karena itu, Papang dan Dimas mengizinkan Radit memiliki teman jalan terlebih dahulu. Akhirnya mereka tidak bertiga lagi dan mereka pergi bersama untuk menonton layar raksasa.

Dua jam telah berlalu, usai sudah gambar bergerak yang mereka tonton. Radit masih saja belum berkata sedikitpun. Mungkin ia malu bercanda seperti biasa karena Ajeng ada di situ. Otak jail Papang mulai berjalan dan lampu mulai menyala. Papang mengeluarkan senyum hantu tanda akan terjadi sesuatu. Teman dekatnya Dimas juga selalu punya pemikiran yang sama. Senyum hantu pun telah merembet ke dirinya. Mereka melangkah bersama dan menghindari pandangan Radit. Rencana membuat Radit berduaan berhasil. Tak sabar menunggu, Radit dan Ajeng mencari mereka. Seperti maling yang mengintai di suatu lubang, Papang dan Radit merasa tempat mereka sekarang masih bias terlihat Radit. Tempat itu tidak terlalu besar untuk bersembunyi. Keajaiban terjadi, Papang melihat pintu yang sangat menyilaukan. Bukan pintu surga melainkan pantulan dari cahaya lampu yang terang.
“Exit”, begitu yang tertulis di pintu itu. Besarnya tulisan itu mungkin sama dengan tulisan yang ada di baliho. Refleks mereka bergerak terlalu cepat. Tanpa disadari telah terlupakan satu hal. Pepatah mengatakan jangan melupakan sebutir nasi pun di piringmu. Apa daya telah terlambat, mereka telah masuk dalam pintu tersebut. Memandang dimana saja, Papang hanya melihat tangga. Dimas menatap keluar, mereka berhasil mengelabui Radit dan Ajeng. Dimas mencoba membuka pintu itu ketika Radit telah menjauh. Serasa menjadi air dalam botol minuman hanya dapat dibuka dari luar. Tidak ada kata lain, mereka telah terjebak.
Walaupun mereka sempat bingung, tak berapa lama otak Papang kembali bekerja. “Exit” adalah jalan keluar, berarti ada pintu keluar dari gedung ini. Berlarian menuruni tangga, mungkin sudah puluhan langkah. Cahaya terang kembali terlihat, satu kata yang mereka katakan, “Sukses”. Lelah melanda kedua pemuda ini. Long march 20 km mungkin tak bisa melebihi rasa lelah mereka.
Orange juice telah menanti mereka untuk masuk kembali ke dalam Mall. Namun mereka tergoda bau ayam KFC membuat perut terus bernyanyi. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Empat porsi KFC bias dihabiskan Papang dan Dimas dengan cepatnya. Dan akhirnya mereka berjalan seperti badut kekenyangan menuju bagian depan gedung. Dimas berpikir bahwa mereka telah meninggalkan suatu hal. Lampu bohlam keluar dari kepala mereka. Mereka telah terpisah dengan Radit dan Ajeng.
Perut badut tidak memungkin mereka untuk pergi mencari. Kembali memandang sekeliling, harapan kembali muncul. Terlihat seorang wanita memanggil nama pengunjung. Dalam hati berkata, dia polwan atau guru yang sedang mengabsen. Ternyata memang bukan keduanya, diatas meja tertulis bagian informasi. Otak jail kembali beraksi, papang meminta dimas untuk melakukan sesuatu. Dimas langsung menuju wanita itu. Layaknya bayi menangis untuk memanggil ibunya. Kata Radit muncul dengan halus dari wanita. Menggema suara itu keseluruh sudut Mall dan tak satu pun telinga dibiarkan melewati suara itu.
Tentunya Radit mendengar suara itu. Tapi sepertinya dia tetap santai seolah tak mendengarnya. Tak disangka wanita dispeaker itu menyebut nama lengkap Radit. Hati Radit langsung menyerupai suara bass betot yang dipetik sangat kuat. Radit dan Ajeng dengan perlahan menuju arah asal suara tersebut. Bagai tikus yang mengedap-edap untuk mencuri makanan. Mereka tak ingin identitasnya diketahui.
Kurang selangkah sampai disana. Radit tak berani menatap depan. Ajeng tetap selalu di sampingnya menempel dengan kuat. Kata Radit muncul kembali, tapi suara ini berbeda dengan yang tadi. Suara itu tak asing ditelinga radit. Serak ngebass sangat khas dan mungkin hanya satu-satunya. Tenyata bukan satu suara, tedengar satu suara lagi. Keduanya terasa sering didengar radit. Ajeng yang telah melihat terlebih dahulu hanya bias tertawa saja. Seperti melihat acara komedi secara langsung, mungkin ini yang ada dibenak wanita yang sampai tak malu memperlihatkan giginya. Kesalahan apa yang Radit buat sampai-sampai namanya bergemuruh disenandungkan. Beruntungnya Radit, lantai digedung itu sangat bersih. Melihat pantulan wajah 3 orang, 1 wanita dan 2 laki-laki. Ajeng memegang tangan radit dan menyuruhnya untuk memandang kedepan. Ternyata Papang dan Dimas yang meminta wanita itu untuk memanggilnya.

Panas meningkat berpuluh-puluh derajat terlihat wajah Radit layaknya orang kepedasan. Mungkin kala itu ia dapat menghabiskan 1 galon air sendiri. Papang dan Dimas hanya memicingkan bibirnya kekanan dan kekiri. “Kami Menyerah” mungkin itu yang dikatakan penjahat ketika telah tertangkap. Namun, malaikat selalu datang di waktu yang tepat. Hawa panas pun berubah layaknya hujan salju. Ajeng menjelaskan pada Radit sebab mereka melakukan ini semua. Api amarah pun sekejap padam di kala itu. Radit merasa bahwa dirinya juga salah. Ia terlalu hening sampai-sampai tak menghiraukan mereka berdua. Dan disambut tepukan meriah di angan-angan, mereka semua berjabat tangan meski lebaran belum tiba. Kejadian ini sungguh menguras energi, Radit dan Ajeng sangat lapar. Radit mengajak semua untuk makan. Papang dan Dimas pemuda yang mudah lapar. Baru semenit mereka makan tapi sudah kembali lapar. Apa daya mereka berempat memang di takdirkan bersama. Teman memang selalu memahami kekurangan kita, jadi jangan putuskan pertemananmu kecuali memang waktu yang memutuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar