Sepi sekali di
kala itu, murid-murid sementara kehilangan kewajibannya ke sekolah. Tiga minggu
tepatnya murid-murid tak duduk di singgasananya. Hari-hari pun dimulai, meski
panas tak membuat Papang kehilangan semangatnya. Di saat semua orang menghabiskan
waktunya di rumah karena terik matahari yang begitu menyengat. Papang bersama
dua sahabat karibnya pergi menonton di ruang gelap. Dimas dan radit, begitu
mereka dipanggil. Hampir 2 tahun mereka bertiga menghabiskan hari-harinya di ruang
yang sama. Radit yang tertua diantara mereka. Oleh karena itu, Papang dan Dimas
mengizinkan Radit memiliki teman jalan terlebih dahulu. Akhirnya mereka tidak
bertiga lagi dan mereka pergi bersama untuk menonton layar raksasa.
Dua jam telah
berlalu, usai sudah gambar bergerak yang mereka tonton. Radit masih saja belum
berkata sedikitpun. Mungkin ia malu bercanda seperti biasa karena Ajeng ada di
situ. Otak jail Papang mulai berjalan dan lampu mulai menyala. Papang
mengeluarkan senyum hantu tanda akan terjadi sesuatu. Teman dekatnya Dimas juga
selalu punya pemikiran yang sama. Senyum hantu pun telah merembet ke dirinya.
Mereka melangkah bersama dan menghindari pandangan Radit. Rencana membuat Radit
berduaan berhasil. Tak sabar menunggu, Radit dan Ajeng mencari mereka. Seperti
maling yang mengintai di suatu lubang, Papang dan Radit merasa tempat mereka
sekarang masih bias terlihat Radit. Tempat itu tidak terlalu besar untuk bersembunyi.
Keajaiban terjadi, Papang melihat pintu yang sangat menyilaukan. Bukan pintu
surga melainkan pantulan dari cahaya lampu yang terang.
“Exit”, begitu
yang tertulis di pintu itu. Besarnya tulisan itu mungkin sama dengan tulisan
yang ada di baliho. Refleks mereka bergerak terlalu cepat. Tanpa disadari telah
terlupakan satu hal. Pepatah mengatakan jangan melupakan sebutir nasi pun di piringmu.
Apa daya telah terlambat, mereka telah masuk dalam pintu tersebut. Memandang
dimana saja, Papang hanya melihat tangga. Dimas menatap keluar, mereka berhasil
mengelabui Radit dan Ajeng. Dimas mencoba membuka pintu itu ketika Radit telah
menjauh. Serasa menjadi air dalam botol minuman hanya dapat dibuka dari luar.
Tidak ada kata lain, mereka telah terjebak.
Walaupun mereka
sempat bingung, tak berapa lama otak Papang kembali bekerja. “Exit” adalah
jalan keluar, berarti ada pintu keluar dari gedung ini. Berlarian menuruni
tangga, mungkin sudah puluhan langkah. Cahaya terang kembali terlihat, satu
kata yang mereka katakan, “Sukses”. Lelah melanda kedua pemuda ini. Long march
20 km mungkin tak bisa melebihi rasa lelah mereka.
Orange juice
telah menanti mereka untuk masuk kembali ke dalam Mall. Namun mereka tergoda bau
ayam KFC membuat perut terus bernyanyi. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk
makan terlebih dahulu. Empat porsi KFC bias dihabiskan Papang dan Dimas dengan
cepatnya. Dan akhirnya mereka berjalan seperti badut kekenyangan menuju bagian
depan gedung. Dimas berpikir bahwa mereka telah meninggalkan suatu hal. Lampu
bohlam keluar dari kepala mereka. Mereka telah terpisah dengan Radit dan Ajeng.
Perut badut
tidak memungkin mereka untuk pergi mencari. Kembali memandang sekeliling,
harapan kembali muncul. Terlihat seorang wanita memanggil nama pengunjung. Dalam
hati berkata, dia polwan atau guru yang sedang mengabsen. Ternyata memang bukan
keduanya, diatas meja tertulis bagian informasi. Otak jail kembali beraksi,
papang meminta dimas untuk melakukan sesuatu. Dimas langsung menuju wanita itu.
Layaknya bayi menangis untuk memanggil ibunya. Kata Radit muncul dengan halus
dari wanita. Menggema suara itu keseluruh sudut Mall dan tak satu pun telinga
dibiarkan melewati suara itu.
Tentunya Radit
mendengar suara itu. Tapi sepertinya dia tetap santai seolah tak mendengarnya.
Tak disangka wanita dispeaker itu menyebut nama lengkap Radit. Hati Radit
langsung menyerupai suara bass betot yang dipetik sangat kuat. Radit dan Ajeng
dengan perlahan menuju arah asal suara tersebut. Bagai tikus yang mengedap-edap
untuk mencuri makanan. Mereka tak ingin identitasnya diketahui.
Kurang selangkah
sampai disana. Radit tak berani menatap depan. Ajeng tetap selalu di sampingnya
menempel dengan kuat. Kata Radit muncul kembali, tapi suara ini berbeda dengan
yang tadi. Suara itu tak asing ditelinga radit. Serak ngebass sangat khas dan
mungkin hanya satu-satunya. Tenyata bukan satu suara, tedengar satu suara lagi.
Keduanya terasa sering didengar radit. Ajeng yang telah melihat terlebih dahulu
hanya bias tertawa saja. Seperti melihat acara komedi secara langsung, mungkin
ini yang ada dibenak wanita yang sampai tak malu memperlihatkan giginya.
Kesalahan apa yang Radit buat sampai-sampai namanya bergemuruh disenandungkan.
Beruntungnya Radit, lantai digedung itu sangat bersih. Melihat pantulan wajah 3
orang, 1 wanita dan 2 laki-laki. Ajeng memegang tangan radit dan menyuruhnya
untuk memandang kedepan. Ternyata Papang dan Dimas yang meminta wanita itu
untuk memanggilnya.
Panas meningkat
berpuluh-puluh derajat terlihat wajah Radit layaknya orang kepedasan. Mungkin
kala itu ia dapat menghabiskan 1 galon air sendiri. Papang dan Dimas hanya memicingkan
bibirnya kekanan dan kekiri. “Kami Menyerah” mungkin itu yang dikatakan
penjahat ketika telah tertangkap. Namun, malaikat selalu datang di waktu yang
tepat. Hawa panas pun berubah layaknya hujan salju. Ajeng menjelaskan pada
Radit sebab mereka melakukan ini semua. Api amarah pun sekejap padam di kala
itu. Radit merasa bahwa dirinya juga salah. Ia terlalu hening sampai-sampai tak
menghiraukan mereka berdua. Dan disambut tepukan meriah di angan-angan, mereka
semua berjabat tangan meski lebaran belum tiba. Kejadian ini sungguh menguras
energi, Radit dan Ajeng sangat lapar. Radit mengajak semua untuk makan. Papang
dan Dimas pemuda yang mudah lapar. Baru semenit mereka makan tapi sudah kembali
lapar. Apa daya mereka berempat memang di takdirkan bersama. Teman memang
selalu memahami kekurangan kita, jadi jangan putuskan pertemananmu kecuali
memang waktu yang memutuskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar