Sudah
bukan sesuatu hal yang asing ditelinga seluruh penduduk Indonesia tentang
ketenaran negera ini sebagai salah satu peringkat teratas negara terkorup di dunia. Entah bagaimana dunia
dapat menilai seperti itu tapi tentunya kita bisa membenarkan fakta tersebut
pada masa-masa sekarang ini. Ketika mata kiri ini memandang terlihat orang-orang
berpenampilan mewah dan harta berlimpah yang
bahkan
mungkin bisa untuk membiayai beberapa keluarga miskin. Tetapi
apa yang sudah mereka perbuat untuk negara ini. Mungkin terlalu berat
pertanyaan ini untuk mereka jawab.
Kalau begitu saya ubah, apa yang sudah mereka perbuat untuk orang-orang di sekitar mereka. Ketika mata kanan ini
memandang terlihat orang-orang berpenampilan seadanya. Tak terhitung harta yang mereka punya
karena memang hanya cukup dipaksakan untuk hidup
sehari atau mungkin malah beberapa jam
saja. Dan tahukah kalian apa yang sudah mereka perbuat
untuk negara ini. Mereka membekali anak-anak mereka dengan cinta, tekad dan
doa. Dengan kepercayaan dari orang-tua, anak-anak
mereka
akan tumbuh sebagai manusia dengan penuh rasa percaya. Percaya bahwa suatu saat
negeri ini pasti akan berubah sesuai dengan apa yang kita cita-citakan dahulu.
Menjadi negara yang Aman dan Damai, Makmur dan Sejahtera, dan tentunya sebagai
negara yang selalu dicintai oleh warga
negaranya.
Dua
sisi yang berbeda diatas telah menggambarkan bahwa masih ada kesenjangan yang terlalu besar.
Di negeri
ini ditinggali penduduk yang sangat
kaya dan penduduk yang sangat miskin. Kita memang tidak bisa menghapuskan
kemiskinan akantetapi kita dapat mengubah proporsi kemiskinan ini. Namun, bukan hal ini yang
akan saya bahas. Propaganda Anti-Korupsi hal sebenarnya mengapa saya menulis
hal-hal di atas.
Banyak kegiatan-kegiatan berupa seminar, workshop, pelatihan, dan juga sudah
banyak kurikulum pendidikan yang mengajarkan tentang Anti-Korupsi. Kegiatan-kegiatan tersebut
menjelaskan begitu gencarrnya mengenai korupsi agar kita bisa menjadi generasi
Anti-Korupsi. Namun,
Para Koruptor juga terus berkembang. Sangat sulit membedakan orang yang
melakukan korupsi dengan yang tidak. Mereka sudah menjadi suatu sindikat yang
menjamur di berbagai
instansi. Entah bagaimana mereka memulai mengeruk uang-uang negara, membudayakannya
ke setiap
sudut, dan akhirnya mereka menghantarkan negara ini menjadi negara terkorup.
Negara ini sebenarnya juga
telah bertindak.
Kita memiliki UU tentang
tindakan korupsi, kita memiliki aparat penegaknya (polisi, jaksa,dan hakim),
kita bahkan memiliki badan khusus yang menangani korupsi (KPK), dan pendidikan
Anti-Korupsi juga sudah memasuki Kurikulum pendidikan. Mereka telah bertindak
dengan baik, banyak kasus-kasus korupsi telah terungkap. Sayangnya lebih banyak
kasus lagi yang belum terungkap, terutama kasus-kasus yang melibatkan petinggi-petinggi
yang justru seharusnya melawan korupsi. Kalau dipikir untuk menghapuskan
korupsi secara seketika saat ini,
menurut saya tidak mungkin. Yang lebih realitis adalah secara bertahap kita
sebagai generasi Anti-Korupsi bersiap untuk menggantikan mereka yang terkait
korupsi sambil para penindak korupsi terus-menerus tanpa pantang menyerah membongkar kasus-kasus korupsi
dan menangkap oknum-oknum terkait korupsi.
Untuk
menjadi generasi Anti-Korupsi yang benar-benar Anti-Korupsi, bukan hanya dibutuhkan sekedar paham mengenai
Korupsi. Yang paling penting adalah mempratikkannya dikehidupan sehari-hari,
terutama dalam masalah pekerjaan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Apa
gunanya paham mengenai Korupsi jika malah digunakan
untuk mencari celah-celah dalam melakukan tindakan korupsi. Oleh karena itu saya
akan membahas salah satu faktor penting yang dapat dijadikan pegangan dalam
tindakan Anti-Korupsi. “Percaya” satu kata yang dapat mengubah sudut pandang
kita. Dalam berbagai aspek, kita sudah mengenal kata “Percaya”, untuk itu saya menggambarnya
pada beberapa aspek. Pertama dan yang paling penting dalam Agama. Rasa percaya
pada Agama yaitu kita percaya adanya
Allah. Allah telah menugaskan kita untuk menjaga bumi ini dan berbuat baik
terhadap sesama. Apabila kita melaksanakannya maka kita dijanjikan surga, dan
bila melakukan yang sebaliknya maka akan mendapat balasan ditempatkan dineraka.
Seharusnya dengan rasa percaya dalam agama saja, sudah bisa menjauhkan diri kita dari korupsi. Karena
meskipun kita melakukan korupsi tanpa diketahui orang lain pun, Allah
mengetahui apa yang kita lakukan dan suatu saat memberikan balasan yang
setimpal. Namun hal ini tidak berlaku bagi orang yang tidak waras dan yang tidak beragama.
Kita pun tidak bisa menyalahkan mereka karena mereka pasti tidak tahu atau
bahkan tidak memiliki rasa percaya dalam agama.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya
adalah rasa percaya dalam Sosial. Sebelum kita memasuki dunia sosial kita harus
memiliki rasa percaya dalam diri sendiri. Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu
hal yang benar jika kita tidak memiliki rasa percaya dalam diri sendiri. Tentunya
kita harus percaya terhadap hal-hal yang benar. Hal-hal yang benar harus sudah
diajarkan sejak-kecil kemudian berlanjut pada pendidikan formal dan informal.
Setelah kita dapat membedakan yang benar dan yang salah, kita mengerjakan sesuatu
yang benar dengan penuh rasa percaya. Namun percaya dalam diri sendiri juga
dapat tergoyah karena pengaruh sosial. Karena pengaruh sosial yang kuat untuk
melakukan korupsi, dapat membuat rasa
percaya dalam diri-sendiri pun runtuh. Terlebih lagi jika pengaruh buruk
tersebut berasal dari petinggi-petinggi ditempat dimana kita berada atau
pihak-pihak yang memiliki uang berlimpah. Secara nyata mungkin hal ini yang
lebih sering terjadi dalam kasus korupsi di Indonesia. Para penguasa mengangkat
para bawahan yang juga cerdas tapi sudah tidak memiliki rasa percaya untuk
menjadi pelaksana dalam mengorupsi uang-uang rakyat. Untuk itu diperlukan rasa
percaya dalam sosial, yang datangnya tidak dari diri-sendiri tetapi dari
orang-orang sekitar. Kita diciptakan Allah sebagai makhluk sosial, makhluk yang
tidak dapat hidup sendiri lebih tepatnya memerlukan bantuan dari orang lain.
Rasa percaya dari orang lain yang diberikan pada kita, itu merupakan salah satu
kunci Anti-Korupsi dapat berjalan. Seorang pemimpin tidak mungkin dapat
memimpin dengan baik, jika tidak ada seorang pun atau hanya minoritas yang
memberikan rasa percaya terhadapnya. Seorang orator tidak mungkin mendapat
perhatian para pendengarnya, jika tidak ada seorangpun audience memberikan rasa
percaya terhadapnya. Seseorang tidak mungkin melakukan korupsi, jika
orang-orang disekitarnya memberikan rasa percaya bahwa dirinya adalah
Anti-Korupsi. Hanya dengan rasa percaya dari orang sekitar, membuat perubahan
yang begitu besar bagi diri kita.
Yang
ketiga, Karena kita tinggal dinegara hukum, tentunya kita harus memiliki rasa
percaya dalam Hukum. Apa jadinya jika suatu negara memiliki hukum tetapi tidak
ada seorangpun yang percaya akannya. Tindakan kriminal terjadi dimana-mana dan
tidak ada seorangpun yang menindaknya. Korupsi merajalela dan seketika negara
ini akan ambruk. Untuk itu lah kita harus percaya pada hukum, bahwa memang ada
sesuatu hal yang harus diatur dan tentunya ada pihak yang mengawasi bagaimana
hukum itu dijalankan. Saling percaya antara pelaku hukum dan penegak hukum,
maka korupsi pun akan terhindarkan. Dengan menerapkan rasa percaya dalam
aspek-aspek diatas, membuat kita memiliki kepribadian yang Anti-Korupsi. Ini
semua dapat kita jadikan sebagai modal awal dalam menapaki dunia kerja ke depan terutama pegawai negeri sipil di lingkungan
keuangan yang secara nyata mengurus uang rakyat.
Saya
telah memaparkan suatu tindakkan pencegahan dalam Korupsi. Sebenarnya mengapa
kita harus Anti-korupsi. Dampak apa yang akan terjadi jika terus-menerus
terjadi korupsi. Secara nyata korupsi menambah kesejangan antar masyarakat dan menjadikan pendapatan
tidak merata tersebar.
Orang yang korupsi
akan semakin kaya, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang seharusnya
mendapat bantuan dari dana yang dikorupsi.
Sebenarnya apa yang menjadikan mereka sebagai
seorang
koruptor. Apakah mungkin cita-cita sejak kecil ataukah memang jalan hidup.
Apakah mereka benar-benar gila harta dan berniat untuk memperkaya diri sendiri.
Apakah pengaruh orang lain dan juga pemikiran bahwa negara ini akan terus
seperti ini yang menjadikan apa salahnya jika kita korupsi. Apapun alasan mereka
tentu tidak dapat diterima karena ini menyangkut kepentingan orang banyak.
Disaat kita sudah mengenal korupsi, kita harus bersumpah untuk tidak melakukan
korupsi. Sejak awal kita harus bercita-cita untuk menolong sesama, merasa ikut
bertanggung-jawab dengan kehidupan orang lain, ini berarti menandakan kita
Anti-Korupsi. Dan tentunya kita harus percaya bahwa suatu saat negara ini akan
terlepas dari korupsi, walaupun nyatanya tidak dapat dihapuskan secara
keseluruhan. Karena beberapa orang sekarang sudah tidak percaya dengan negara
ini, mereka sudah menyerah untuk menghadapi tantangan negara ini. Mereka
orang-orang lemah yang nantinya cuman bercita-cita untuk memuaskan diri mereka
sendiri.
HALO GENERASI
ANTI-KORUPSI!!! sudah kah kalian sadar apa yang harus kalian lakukan untuk negara.
Memang tugas yang berat untuk menjadikan negara ini maju dan bebas korupsi,
selama masih ada kemauan, harapan, semangat, cita-cita, tekad, impian dari kita
untuk melakukannya. Negara ini akan terlahir kembali seperti apa yang ada dalam
bayangan kita semua. Saya tidak ingin mengubah tujuan hidup kalian tetapi saya
hanya ingin kalian menambahkannya dalam daftar panjang rencana kalian kedepan.
Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menyikapi korupsi, asalkan itu baik
silahkan kalian lakukan. Saya tetap percaya walaupun kelak bukan generasi saya
yang membuat negara ini maju, selalu ada orang yang memiliki pemikiran yang
sama bahkan lebih baik yang akan memimpin dimasa mendatang. Tetap berjuang
kawan-kawanku, aku percaya perjuangan kita nanti tidak akan sia-sia. Hancurkan
KORUPSI dan budayakan ANTI-KORUPSI.
Coba semua pemimpin negara ini bisa sadar, indonesia pasti udah ga ada yang ngalahin...
BalasHapusSDA kaya, SDM banyak, negara tropis, kurang apa lagi hehe...
thx for sharing :)